Cerpen Terbaru Episode IV BERKENALAN DENGAN LISA
https://rinojanggu.blogspot.com/2020/11/dari-episode-iii-berkenalan-dengan-lisa.html Lanjutan dari Episode III
BERKENALAN DENGAN LISA
*****
Setelah beberapa hari aku berada di kota kecil itu, aku
merencanakan untuk berkunjung di suatu tempat yang telah lama orang gunakan
sebagai tempat berekreasi. Tempat itu terletak di sudut kota kecil itu. Memang
tempat itu bukan saja orang beramai-ramai datang untuk bernyanyi atau berdansa
dan bukan juga hanya makan dan minum. Melainkan juga dari tempat itu, terlihat lebih
menarik untuk melihat pemandangan ke tepi pantai laut yang aku pernah
memandangnya dari atas bukit Poco Leok. Tepat sekali saat aku sementara duduk
di tempat yang telah disediakan di situ, dan pada waktu yang sama, yang biasanya
pukul enam sore, lampu-lampu mulai menyala entah itu dalam rumah maupun di
sekeliling rumah yang mereka sebut lampu taman. Kulihat di seberang pantai laut
mulai menyala lampu-lampu kapal atau perahu. Menandai mereka akan segera mulai
bekerja dan mulai berlayar. Karena mata pencaharian mereka yang tinggal di
pesisir pantai laut adalah nelayan. Tidaklah mengherankan kalau melihat ke
pantai laut begitu banyak cahaya lampu. Memang lampu-lampu yang jauh di sana
itu terangnya yang sedikit lebih kecil dibandingkan cahaya lampu yang di tempat
berekreasi itu. Kerana memang letak kota kecil dengan pesisir pantai laut
cukuplah jauh. Tetapi lampu itu tidak terpengaruh dengan diriku saat itu. Aku
hanya ingin untuk memandangnya bukan untuk membandingkan yang lebih terang dan
yang suram.
Tepat pada pukul enam sore aku sampai di tempt itu. Tak
sengaja mataku langsung memandang pada diri seorang perempuan yang sedang
melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh nenek tua itu saat aku
ada di seberang pojok kanan kota kecil itu. Mungkin di kota ini sudah menjadi
kebiasaan untuk berdoa. Kataku dalam hati. “apakah aku juga harus melakukan hal
seperti ini? Kalau memang di kota ini mewajibkan setiap penghuni untuk melakukan
hal ini. Lebih baik aku lakukan saja. Sebab tidak ada kota lagi yang lebih indah
dari pada kota ini”. Dengan keadaan yang
sedikit tidak siap, aku berdoa. Setelah aku menyelesaikan doa yang dengan badan
sedikit dingin. Aku mulai menikmati keindahan pantai laut itu. Namun,
kedinginan sore itu tidak aku tanyakan atau menghalang aku untuk tetap
memandang keindahan yang ada. Karena bukan saja keindahan yang jauh di sana,
tetapi juga keindahan yang cukup dekat dan yang bisa pula menghangatkan
dinginnya sore itu.
Memang perempuan yang tadinya berdoa cukup menarik.
Seandainya aku datang di tempat itu bukan untuk menikmati keindahan pantai laut
itu, secara pasti perhatianku pasti untuknya. Atau aku diberi kesempatan untuk
memilih, aku lebih memilih untuk menikmati kecantikan perempuan itu. Karena
saat itu adalah waktunya aku diijinkan untuk bercinta. Sekian waktu aku
melarang diriku untuk bercinta. Karena saat itu bukan waktunya. Waktu pada sore
itu adalah waktu yang ditundahkan dari sekian waktu. Dan itupun aku tidak boleh
menunda di atas waktu yang ditunda. Karena kalau terjadi demikian, aku hanyalah
seseorang yang mengharapakan apa yang tidak akan diharapkan lagi. Semuanya suda
berlalu. Dan kapan lagi? Usiaku tidak bisa ditunda. Kenapa bercinta boleh
ditunda? Sekarang adalah waktunya untuk lakukan apa yang harus dilakukan.
Sementara aku sedang merenungkan tentang diriku sendiri,
dengan begitu kaget, aku didatangi seorang perempuan dan yang tanpa beretika ia
menyodorkan tangannya. “nama saya Lisa”. Dengan spontan aku menyodorkan
tanganku juga. “Aku Nandos”. Dalam bayanganku dia adalah penjaga tempat itu.
Sehingga, aku tidak berani lagi untuk mencoba bercakap-cakap, seperti yang
kulakukan waktu aku meminta air di tempat penginapan yang beberapa hari lalu.
Aku mencoba untuk sedikit lebih santai. Agar dia tidak tahu bahwa aku adalah
orang asing di kota itu. “kapan pulang?” Kata perempuan itu dengan suara
lantang seperti ia telah mengenal aku. Aku tidak pulang, “jawabku”. Oh,,ya.
Sambungnya.
Perempuan ini benar-benar berbeda dengan perempuan yang
ada di rumah penginapan itu. Mengapa ia suka bercakap-cakap? Ahh...mungkin dia
sedikit lebih kurang sibuk dibandingkan perempuan yang bekerja di rumah
penginapan itu. Maaf ya,,, waktu itu aku benar-benar tidak punya waktu untuk
sedikit berhenti. Karena aku lagi terburu-buru. “Kemana?” jawabku dengan
sedikit bingung. Karena aku tidak lagi mengingat apa yang telah terjadi di kaki
bukit beberapa hari lalu. Dan aku pun sangat sulit untuk mengingat apa yang sudah
berlalu. Aku hanya fokus untuk masa depan. “ke kota Delux” sambungnya. Apakah
kamu kerja di sana? “tidak aku hanya mengambil ijaza ku”. Oh.. ‘lanjut ku dengan
sedikit kontrol. Karena aku bukanlah orang yang berpendidikan seperti dia’.
“saking karena terburu-buru nya aku waktu itu, sampai dompetku yang berisi uang
pengambilan ijaza ku pun lupa juga” lanjutnya. Bagaimana dengan pengambilan
ijaza mu? “ditunda keesokan harinya. Dan kakekku yang mengantarnya ke Delux”.
Setelah ia berkata demikian, teringat lah aku akan kakek
yang kutemui saat aku menuju kota kecil itu. Apakah kakeknya? Memang wajahnya
sedikit mirip. Panjang hidung, ukuran dagu dan pipinya yang sedikit lesung,
tidak dicurigai bahwa itu bukan kakeknya. Tetapi, bentuk matanya dan alis
yang sedikit tipis, membuat aku kurang percaya akan percakapannya. Karena pada
matanya sedikit aku melihat bahwa di balik wajahnya yang cantik dan elok itu,
ada masa lalu yang disembunyikan. Tetapi hanya dugaan ku. Belum tentu aku sama
dengan dia. Mempunyai masa silam yang pedih. Itu tidak perlu aku bahas. Entah
dia ada atau tidak? Itu adalah dirinya. Aku tidak bisa menjangkau apa yang
menjadi hal rahasia untuk dirinya. Sebab aku bukan siapa-siapa untuknya. Aku mengenal
dia hanya kebetulan. Bukan tujuan.
“Sudah makan?” Ia memulainya lagi setelah kami berdiam
dalam teriakan angin malam di sudut kota itu. Malam semakin dingin dan
perlahan-lahan yang datang ke tempat itu satu persatu kembali. Mungkin mereka
kembali karena sejak tadi pagi atau karena dinginnya malam yang semakin
membekukan jiwa. Apalagi yang datang lebih banyak seusiaku yang ingin jiwanya
berlarut-larut dalam cinta. “belum” jawabku dengan serentak. “kalau begitu,
kita masuk dan memesan makanan”. Oke. Lalu kami berdiri dan masuk ke dalam
sebuah restoran kecil yang sedikit agak sepi. Letaknya di seberang tempat
berekreasi itu. Semangat dari pemilik restoran itu, dengan cepat menjemput kami
di pintu restorannya serta menyodorkan kertas yang berisi menu-menu. “mau pesan apa?”
kata pemilik restoran itu. Restoran itu sepertinya sejak tadi pagi belum ada
pengunjungnya. Karena mulai dari lantai yang masih bersih dan kursi-kursi yang
masih tersusun rapi seperti restoran itu baru dibuka, sampai makanan yang masih
numpuk di rak kaca samping pintu masuk. Atau mungkin karena restoran itu
benar-benar menjaga kebersihan. Dan memang kota itu adalah kota bersih. Segala sesuatu tersusun rapi dan teratur. Sehingga, restoran itu kelihatan seperti
baru dibuka. Tetapi sebenarnya, itulah penataan yang menarik. Yang membuat
pengunjung lebih tertarik.
Sementara aku menanyakan tentang restoran itu dalam hati,
Lisa yang dengan suara yang sedikit halus yang sepertinya suara itu keluar dari
kerongkongan yang sedikit dalam. Atau
dia berbicara oleh karena ia sementara lapar! Memang jam makan sudah lewat jauh.
Biasanya makan malam itu jam delapan atau sembilan. Selamat makan! Oke. Jawabku
dengan sedikit heran. Karena suara itu cukup enak didengar. Seandainya ia
mengulanginya lagi dengan nada yang sama, aku akan siap untuk menjelajahi dirinya. Dan aku takan membiarkan saat itu berakhir sebelum aku
mengenal dirinya. Dan memang suara itu seperti suara dari seorang ibu yang
ingin menyampaikan selamat makan untuk anak dan suaminya. Memang kalau dilihat
dari pribadinya, ia suda layak untuk menjadi seorang ibu. Tetapi, ia belum
bersuami. Kalau ia nanti bersuami, siapakah yang akan menjadi suaminya? Mungkin
jika apa yang kubayangkan sama seperti apa yang dia bayangkan? Kami suda
membangun sebuah keluarga kecil di waktu itu. Tetapi, belum tentu. Aku dan dia
belum layak secara adat dan agama untuk dikatakan suami dan istri. Aku hanya
berkenalan dengan dia hanya kebetulan saja.
Kami makan malam jam 12.00. jam yang sebenarnya adalah
jam beristirahat. Mungkin karena itu suaranya Lisa agak sedikit lebih halus. Atau
mungkin, orang yang selesai berpendidikan, demikianlah kepribadiannya. Sopan,
suara yang sedikit halus. Ah...aku belum tahu siapa dia yang sebenarnya. Aku
jangan melampaui apa yang sebenarnya terhadap perempuan ini. Setelah kami
makan malam yang hampir sejak mulainya makan sampai selesai, kami tidak
berbincang apa-apa. Kami hanya saling memandang dan senyum. Itu cukup untuk dua
orang yang saling suka. Dan senyumannya itu sama persis waktu ia senyum di kaki
bukit itu. Senyumannya ini yang membuat aku ingin lebih dalam mencari tahu
tentangnya.
Tepat pada waktu yang tak terbayangkan, pukul 12.30. kami
pulang yang dengan mengakhiri perjumpaan kami dengan kata sampai jumpa. Lalu
kami pulang ke tujuan kami masing-masing. Ia ke rumahnya dan aku ke tempat
penginapan. Dan begitulah kami mengakhiri perjumpaan ku dengan lisa di hari itu.
Aku tidak mengharapkan akan terjadi hal yang sama di hari esok. Aku hanya
berharap kami bisa bertemu lagi. Entah kapan? Aku belum tahu dan aku tak
mengucapkan janji sedikitpun padanya untuk bertemu. Dan iapun demikian. Karena
kami adalah dua pribadi yang sama-sama mempunyai tujuan. Namun kedua
titik yang berbeda yang ingin kami capai.
******
Menanti episode V

Komentar
Posting Komentar